Blog EntrySpread the word: Save Pasir Pawon!Feb 25, '08 1:37 AM
for everyone

Kalau kalian merasa baru saja melewatkan weekend yang seru dan malam mingguan yang romantis, coba pikir lagi dan silakan baca berikut ini.

 

Sabtu. 23 Februari 2008

 


Perjalanan dimulai dari Di Museum Geologi.

Hari Sabtu di sekitar Gedung Sate dan Lapangan Gasibu sudah langganan macet. Akan tetapi saya gak tau kalo hari itu pasangan calon Gubernur secara mendadak tebar pesona dengan melakukan kampanye di lapangan Gasibu. So, makin serulah macetnya. Jalan diblok dan rute jalan diputar. Deg-degan, khawatir acara molor.

 

Peserta mulai berdatangan sekitar pukul 09.30. Beberapa diantaranya telat karena tertahan Kampanye Cagub. Peserta yang sudah kumpul diantaranya adalah Tessi, Olivier, dan Chandra. Deni, Tika, dan Mita menyusul sesudahnya. Daripada melongo menunggu peserta yang lain, beberapa orang yang sudah datang saya ajak masuk ke Auditorium (meski belum waktunya) untuk nonton film yang dibuat Pak Budi. Karena belum jadwalnya Mahanagari untuk nonton di situ, kami bergabung dengan ratusan anak SMP study tour yang tidak bisa diam (berisik) dan menikmati film yang diputar pengelola Museum Geologi, film seri BBC tentang pembentukan bumi. And somehow we enjoyed it.

 

Pukul 10 pagi, Auditorium is ours. Selama 20 menit pertama kami menonton bagaimana pembentukan pulau Jawa, khususnya bandung terbentuk dari film Geologi yang dibuat Pak Budi. Film itu dilanjut dengan pemutaran slide foto-foto tempat tujuan, Kawasan Pawon di Padalarang, disertai penjelasan dari sang Geologist kita, Pak Budi. Diskusi ini disusul dengan sesi tanya jawab yang seru antara peserta dengan Pak Budi dan Opa Felix., Jadilah Auditorium seluas samudra itu diisi oleh 30an saja. Seru kali ya kalo kuliah dengan layar yang besar dan muridnya gak bejibun. Lebih khusyu.


 

Opa, sharing tentang Iketnya


Kami resmi keluar dari Museum pukul 12 siang untuk break: keliling museum, ngobrol dengan Opa tentang pakaian dan iket kepalanya, Sholat, dan makan siang sebelum berangkat.

 


Molor 15 menit dari jadwal, kami segera menuju Padalarang dengan menggunakan Bis. Perjalanan jadi gak gitu kerasa karena cerita-cerita Opa tentang Bandung beserta isinya. Oiya, tercatat ada 22 peserta hari itu, dengan tiga peserta muda belia sekali. Dhanu (7 tahun) anaknya Tita, Radya (5 tahun), dan Maliki anaknya Hanafi (15 bulan). Teman-teman  lain yang ikut serta adalah:

Tessi-Danu-Siesca-Irma-Yudi-Piki-Deni-Tika-Hilda-Mita-Olivier-Chandra-Gustar-Imgar-Nanik-Adi.

 


Berhenti sebentar di suatu tempat bernama Pamucatan.



Sebelum benar-benar 'terjun kaki' di Pasir Pawon, kami mampir sebentar di Pamucatan untuk melihat view Pasir Pawon, Pasir Masigit, dan Karang Panganten. Tentu saja pesona alam yang kami lihat itu akan berbeda jika kami berdiri di Pasir Pawon nanti. Dan saya pikir, pemandangan dari Pamucatan termasuk pemandangan paling jelas bentuknya. Terutama untuk Karang Penganten dan Pasir Pawon. Belum lagi disisi kirinya berdiri  Pabrik pengolahan batu gamping yang kelihatan kontras sekali dengan pemandangan bukit disisi kanan. Sambil memandang, sesekali lewat para Biawak (orang sunda melafalkan ini dengan: Bayawak). Biawak adalah mobil pengangkut batu-batu gamping yang designnya cukup vintage taip mesinnya cadas banget. Bebatuan itu diangkut tanpa menggunakan pengaman sama sekali. Jadi kebayang kalo kita sedang berada dibelakang Biawak dan tiba-tiba batu-batu itu tidak kuattertahan lalu jatuh menimpa kita. So…Indonesia is dangerously beautiful indeed.

 

Kembali ke Bis dan awan mulai gelap. Aneh kalo gak hujan. Bener aja, kedatangan kami di kaki pasir Pawon disambut hujan. Jalanan mulai becek dan licin. Untuk mereka yang pake sepatu model standar sedikit-dikit jatuh. contohnya Danu. Saya gak kuat nahan ketawa kalo jalan tepat dibelakang dia, abisnya orang nahan badan dan jatuh karena tanah yang licin itu kadang-kadang (dan seringnya) lucu hehehehe=D maap, Danu.

 



Pasir Pawon



Bendera anak Snapling, sweeper kami selama perjalanan


Dalam bahasa Sunda, Pasir = Gunung. Pasir Pawon tempat kami siap jelajah Bandung Purba ini masih asri, berbeda dengan tetangga dekatnya , Pasir Masigit. Di Pasir Pawon , kami berhenti di empat tempat untuk mendengar penjelasan Pak Budi dan ambil foto sepuasnya. Dua diantaranya adalah di Puncak pasir dimana terdapat makam tanpa penghuni dan di lereng Pasir dimana kita bisa melihat pemandangan tetangga Pasir Pawon yang sedang dieklpoitasi habis, Pasir Masigit. Menurut Opa, keberadaan makam disuatu puncak Pasir itu biasa. Anehnya, makam tersebut justru tak berisi, makam kosong aja. Konon adanya makam tersebut ditujukan untuk menyakralkan situs setempat. Dan menurut teorinya Pak Budi, Puncak Pasir Pawon bisa jadi merupakan tempat para Manusia Prasejarah pawon merayakan upacara ritual saat Purnama.

 

Masih hujan.

Jalan turun menjadi arena perosotan alam. Olivier, gustar, Piki, dan rombongan paling belakang tidak perlu susah-susah nahan badan supaya tidak jatuh karena tanahnya basah dan licin, cukup ngegelosor saja dengan gaya duduk atau skating ala Gustar dan sampailah mereka dikaki bukit. Apalagi Olivier (kiri) yang kesenengan gara-gara mungkin di Belanda gak ada yang beginian. Hehehe =D

 



Menuruni Tanjakan Frustasi


Pengalaman berhadapan dengan jalan tur
unan di Pasir yang licinnya ampun-ampunan, mengakibatkan beberapa peserta memilih mencapai gua dengan naik Bis. Akhirnya diputuskan untuk memberi options kepada peserta: Mau ikut Ulu menuruni turunan Frustasi atau ikut Benben yang milih naik bis aja?

 

Peserta terbagi dua, peserta frustasi dan peserta bis. Saya gak tau nasib teman-teman yang naik bis, nah yang ambil jalan frustasi ini...wow...lumayan banyak bergelimpangan. Apalagi saya & Tessi. Mulai dari membungkukan badan, membuka alas kakinya, jatuh lebih dari sekali, sampai ngebetot tumbuhan dikanan kiri sebagai tali untuk pegangan, dan Alhamdulillah sampai juga dideket Gua.

 


Gua Pawon


Jelajah Gua Pawon starts sekitar pukul 16.30. Hujan sudah berhenti dan kami foto bersama dulu sebelum masuk Gua. kalau di Pasir disambut air hujan, maka di Gua kami disambut dengan bau tajam Guano, yaitu kotoran Kelelawar yang markasnya memang di Gua Pawon. Sedang asik-asik nanjak masuk Gua Peteng, Dhanu anak Tita langsung ngacir lari kembali keluar Gua. sayang Dhanu gak masuk Gua, "ada Vampir. Vampir makan darah", alasannya. hehehe, Tita, anaknya nonton film apa tuh? =D

 

Satu per satu ruang dalam Gua kami kunjungi, disertai cerita dari Opa dan Pak Budi. Sayang tidak bisa langsung melihat replika fosilnya karena area disitu dipagari gerbang tinggi dengan kawat diatasnya yang berduri. Balai Arkeologi yang seharusnya menyimpan kunci gemboknya saja tidak tahu dimana kunci tersebut disimpan. Sungguh sangat disayangkan, memang. Apalagi pak Budi. Menurut beliau, pemerintah memang kurang peduli pada masalah seperti ini. Saat menemukan fosil tersebut pada tahun 2003 saja, KRCB (Kelompok Riset Cekungan Bandung) dituduh yang bukan-bukan padahal mereka bukan sedang mencuri atau merusak, tapi mempelajari dan meneliti. Kini, tindak lanjut dari pemerintah melalui Balai Arkeologinya untuk perawatan Fosil (baik yang replika atau yang aslinya) belum kelihatan serius. KRCB memiliki niat baik untuk terus menggali dan menemukan sejarah nenek moyang, alangkah lebih baiknya jika Pemerintah mau bagi-bagi tugas dan mempercayakan pada orang-orang yang sungguh-sungguh
seriu
s dan ahli dibidangnya, bukan?

 

Tita dan Benben di jendela Ruang Tujuh

Ok, balik lagi ke cerita jalan-jalannya. Lanjut ke Ruang Tujuh alias Ruang Kopi. Sebuah site yang termasuk paling menarik karena ada jendela alam besar dimana kami bisa melihat pemandangan lembah Cibukur dengan sawah sengkedan dan sungai kecil bawah sana. Disini mulai sesi foto-foto (terutama dengan Mita sebagai modelnya ehehehe)

 

Cukup lama juga kami habiskan waktu di ruang Tujuh sampai-sampai gak kerasa bahwa hari mulai gelap. Bersama kami keluar Gua dan begitu di teras Gua Peteng, rasanya disinilah klimaksnya.

 

Kami gak bisa minta apa-apa lagi di hari itu setelah hujan-hujanan, becek-becekan, nanjak, turun, dan jatuh bergelimpangan. Hujan berhenti juga udah bersyukur sekali. Ditambah dengan munculnya sunset tipis di ujung hari, wah kita udah seneng banget. Dan rupanya Tuhan gak keberatan memberi kami bonus.

 

Kami bisa melihat dari jarak yang amat sangat dekat, ratusan (kayaknya jutaan atau milyaran) Kelelawar mulai berterbangan keluar gua, benar-benar tepat diatas kepala kami. Waktunya mereka cari makan memang. Tapi gak nyangka aja, pak Budi yang sudah bolak-balik ke Gua Pawon mengaku baru kali ini ngeliat Kelelawar beraksi. Owh...kami merinding saking banyaknya kelelawar itu, belum lagi paduan kelelawar dengan sunsetnya. Bergerombol membentuk barisan dan terbang sama-sama ke arah lembah Cibukur dengan latar Gua pawon dan Sunsetnya. Wah…Keren romantis.

 

Photo was taken by Adi


Selesai bertakjub ria, kami baru sadar bahwa hari udah cukup gelap dan sudah harus turun Gua. Kami masih harus berjalan lagi sekitar 15-20 menit menuju lokasi Bis. Dan...selesai.

 

Kembali ke kota. Kembali ke Bandung. Malam mingguan di Bis, duduk sama-sama dengan muka kucel, pakaian kotor, dan bau badan yang lumayan seru. Perjalanan berakhir di Mahanagari DU 21.

 

Mahanagari mau berterima kasih kepada orang-orang keren berikut ini:

Opa Felix yang sejak awal jadi partner Mahanagari dan sudah bantu kami banyak-banyak-banyak sekali.

Budi Brahmantyo yang sudah menjadi 'dosen' Geologi funky selama tur.

untuk Snapling -Eko dan teman-temannya- yang siap siaga di lokasi membantu kami agar tidak jatuh dan tidak masuk ke arena 'tengkorak' –walo akhirnya jatuh juga hehehe-

Dan kepada 22 orang teman-teman, yang masih aja ketawa-ketawa padahal sudah jatuh gara-gara tanah becek nan licin, yang masih bisa senyum padahal bajunya basah2 dan kotor segala. Yang tetap semangat padahal kehujanan abis. Luar biasa. Apalagi Radya dan Dhanu, dua jagoan cilik  kita.

Maaf untuk segala kekurangan. Kalo ada kritik, wah kami seneng banget. Oiya, maap juga karena kemarin saya gak minta temen-temen bawa baju ganti -karena faktanya kita memang butuh baju ganti-. Tapi alhamdulillah ongkos tambahan bisnya karena kekotoran yang kita buat gak gede-gede amat hihihihihi=D


So,

Kita tidak mau keberadaan Pasir Pawon senasib dengan Pasir Masigit yang sudah 'botak' sana-sini karena demi kepentingan industri. Karenanya, sering-seringlah bikin gerakan dengan tujuan menyelamatkan kawasan ini. Ajak ibu, bapak, kakak, adek, bibi, uwa, pacar, teman,sampai dosen dan guru ngajimu. Lihat segalanya lebih dekat dan kamu akan mengerti. Blog ini hanya membahas acara jalan-jalan kemarin, tentang detail Gua dan Pasir Pawonnya sendiri bisa dilihat disini  atau bisa dibeli bukunya di showroom Mahanagari dan tentu saja teman-teman bisa menfaatkan google;)


Hatur nuhun. Terima kasih, semuanya.

Jangan kapok ikutan event-event Mahanagari yak? Sip!

 

 

-ulu-

Mahanagari

 

 


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ibutio wrote on Feb 25, '08, edited on Feb 25, '08
Ah...gak bisa ikutan....padahal ada Imgar, Tessi, Nanik, Tita plus mas Danu....hehe....
lain kali ikutan ah...
gustar wrote on Feb 25, '08
Yah, Bener-bener petualangan ke masa purbakala he he. Sama ngerasain skating di darat tanpa alat. Foto-fotonya dong Lu
emmaku wrote on Feb 25, '08
sayang ga bisa ikut...mesti kontrol kebun.....kapan ada trip lagi? kalo bisa hari minggu dong...
emmaku wrote on Feb 25, '08
Fotonya mana Lu? kayaknya seru banget dehh...
udey wrote on Feb 25, '08
keren...
sukses terus mahanagari...
ulu.. tawarin event seperti ini ke sd2.....
perempuandititiknol wrote on Feb 25, '08
huwaaaaaaaaaaaaaaaa iri!!!!
*ngloyor keluar*
rachmiwi wrote on Feb 25, '08
skeujulnya tanggal 9 Februari bukan 23 Februari?
emmaku wrote on Feb 25, '08
9 februari kan rafting....kayaknya ulu salah ketik...
mahanagari wrote on Feb 25, '08
emmaku said
9 februari kan rafting....kayaknya ulu salah ketik...
Iyah. maapkan. Salah ketik. Makasih diingetin, hehehehe =D udah direvised.
pakeotak wrote on Feb 25, '08, edited on Feb 25, '08
kapan tour tempat lain? gw udah 2 kali nih ke tempat ini....
sama mahanagari juga. makanya waktu itu diajakin tita ga ikut.

tapi sekarang lebih nyaman kayanya ya, pake bis AC.
ga ada lagi dong suasana di OS-nya. trus kapan downhill ciwidey??
mahanagari wrote on Feb 25, '08
trus kapan downhill ciwidey??
Nanti dulu ya. Kita istirahat dulu, cape baru pulang dari Cimanuk langsung menjelajahi Pawon. Sekalian mau buka toko dulu yang di PVJ tanggal 1 Maret ini. Selain Yaya, siapa lagi yang mau diajakin sepeda-an? ngakuuu!
-benben-
ibutio wrote on Feb 25, '08, edited on Feb 25, '08
siapa lagi yang mau diajakin sepeda-an? ngakuuu!
saya...saya...
Add a Comment